Sunday, April 29, 2012

S.O.S.

Sudah lebih dari satu minggu Ujian Nasional berakhir. Secara tidak resmi, semesta putih-abu gw berakhir pada hari terakhir marathon ujian itu. Jadi, saat ini lengang sekali rasanya.

Lengang itu gw isi dengan banyak membaca. Berganti buku nyaris setiap hari; kondisi ini sangat berbeda dengan yang gw bayangkan. Dulu imaji yang terbayang adalah gw yang memegang kertas dan kuas atau persil warna setiap harinya, menduplikasi gambar-gambar bagus yang masih terjangkau amatir. Tapi nyatanya sudah lebih dari dua minggu (terhitung dari Selasa pada minggu sebelum UN) gw gak menggambar, sama sekali. (Dan rasanya sangat… guilty; seperti ini H-1 SNMPTN dan gw malah sedang ada di Dufan, dilenakan oleh Tornado atau Histeria).

Gw juga les setiap harinya. “Dipaksa” untuk tidak bangun siang dan juga”dipaksa”untuk mengerjakan puluhan paket soal. Pemaksaan yang menyenangkan, tentunya. Karena gw juga tidak pernah suka digentayangi hantu “merasa bersalah karena wasting time”.

Mungkin itu semua tetap tidak mampu mengisi kekosongan yang ada, saking beruntunnya “kembang api kehidupan” muncul di saat gw murni masih anak SMA. Gw jadi lebih banyak memikirkan hal-hal yang… terkadang trivial, atau bisa jadi terkadang terlalu substansial sampai gw sendiri bergidik karenanya, diikuti istighfar karena pikiran gw bisa berkelana nyaris melewati batas.

Sekedar melamunkan percakapan antara gw dan beberapa orang teman di Rice Bowl tentang bawang saja mampu membuat gw bertanya-tanya,”Lalu benarkah bawang lebih banyak mengandung gula disbanding apel? Benarkah bawang terasa pedas karena sulfur, hingga kita tak lagi mengendus manisnya? Bukankah onion ring di Burger King rasanya memang manis? Lantas ke mana sulfur itu? Menguap? Ah, bukankah menguap itu dari cair ke gas? Sementara sulfur itu sendiri kita temukan dalam bentuk solid?”

Atau bertanya-tanya tentang Kartini, “Mengapa sebegini kuat gaung namanya? Dia berbuat apa? Membuat sekolahkah? Menyekolahkan semua wanita Indonesia pada masanya? Apa? Mengapa hanya namanya yang diperingati? Tidak ada hari Cut Nyak Dien? Tidak ada hari Martha Christina Tiahahu? Tidak ada hari Dewi Sartika? Atau ini hanya sebuah konspirasi?”

Juga melanjutkan setiap lamunan yang terbersit saat membaca Muhammad saw., Lelaki Penggenggam Hujan. Tenggelam dalam rindu yang menyesakkan, ketakutan dalam rasa penasaran yang mengerikan, atau tersenyum dalam kedamaian yang menenangkan. Mencari hubungan-hubungan antara 99 Cahaya di Langit Eropa dengan buku sejarah Islam, atau memaknainya sejalan dengan hal-hal yang pernah gw alami.

Sumpah, gw merasa butuh teman diskusi yang mampu –tidak, sepertinya terdengar terlalu arogan –tepatnya MAU, meladeni dengan kesabaran untuk memuaskan dahaga gw tentang semua itu. Seringkali pertanyaan-pertanyaan kecil gw dianggap terlalu tidak penting sampai harus ditertawakan. Maaf, ini bukan curhatan dalam kemeranaan. Haha, walaupun terdengar penuh emosi. Ya, mereka dianggap terlalu konyol; dan di lain kesempatan mereka hanya dibalas diam, dianggap terlalu berat untuk menjadi diskusi santai dalam perjalanan atau waktu istirahat. Padahal menurut gw, diskusi-diskusi semacam tadi bisa menjadi sebuah manifestasi dari “hujan” yang turun pertama kali itu.
“Bacalah.”
Bukankah diskusi-diskusi itu bisa dijadikan cara membaca? Membaca yang implisit, membantu kita mengenal dunia lebih dalam. Lebih jauh, namun di sisi lain juga lebih dekat. Bukankah begitu? Wallahu ‘alam bish shawab.

Lalu, adakah yang sudi menjadi sahabat gw dalam hal ini? Sudikah dirimu untuk, temani aku dulu…?(Ya, benar. Ini lirik lagu. Gak penting)

Catatan: Agaknya gw harus menulis tentang Kartini (yang sudah cukup lama ada di draft kepala gw), daripada gw terus penasaran

Monday, April 16, 2012

Ujian Nasional?

Kepala gw pening, hanya menjelang 48 jam. Parahnya lagi, gw sesak napas selama 7 jam terakhir. Gw merasa terus diburu oleh perasaan itu. Jujur gw memang kurang menyiapkan. Dan ini memang pertama kalinya gw memiliki perasaan itu. Ya, gw takut tidak lulus.

Entahlah.
Bukankah masih ada Dia?

Hari pertama sudah berlalu dan alhamdulillah, gw masih baik-baik saja. Tidak sepenuhnya baik, karena ada yang teriris di dalam sini. Kombinasi rasa rindu, miris, sesal, sedih, dan harap. Gw teringat tiga tahun yang lalu.
Ujian memang dimulai jam delapan. Tapi kami diwajibkan hadir jam tujuh pagi. Kami, dikumpulkan dalam dua buah ruangan (terpisah antara ikhwan dan akhwat tentunya). Bukan, bukan untuk saling mengecek apakah sudah mendapat kunci jawaban atau belum. Bukan, bukan untuk briefing bagaimana cara menyontek yang aman dari terkaman pengawas. Bukan satu pun dari amal-amal buruk itu. 
Kami diajak shalat Dhuha bersama, yang dilanjutkan dengan doa bersama. Wali kelas kami mendampingi, sampai akhirnya kami masuk ke ruang ujian. Guru-guru lain pun terus membisikkan kata-kata yang sama; tentang dzikrullah, tentang jujur, tentang semangat.
Salahkah jika gw mengharap hal yang serupa? Tentang jujur dan nama-Nya yang terus digaungkan.
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali Imran: 104
Siapa pun yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya, kalau tidak mampu, hendaklah mengubah dengan lisannya, kalau tidak mampu hendaklah mengubah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman. (HR. Bukhori-Muslim)
Maka kuatkanlah Ya Allah, karena sesungguhnya Engkau Yang Maha Kuat.

Wednesday, April 11, 2012

Suatu Ketika

"Dia persis kamu, Tik"

*gw nyengir, bosan dengan komentar itu*

"Kerjanya gesit dia. Bagus lah. Obsbang memang harus kaya gitu. Siapin lagi tuh obsbangnya tahun depan."

Rasanya ingin menangis, menangis karena ingat bagaimana dia berlelah-lelah, menangis karena ternyata keyakinan gw bahwa dia mampu menjadi 'yang baik' bahkan 'yang lebih baik' memang tidak salah, menangis karena gw kembali sadar bahwa kerja keras yang tulus pasti dapat dirasakan oleh orang lain, menangis; karena gw memang sayang padanya.

Ya, Regia. Itu sebuah pesan dari Pak Bas, Gi. Untukmu.

Selamat menjalani, hari-hari berikutnya yang semakin menyenangkan.

Sunday, April 01, 2012

Wondering

Apakah Bandung akan seramah ini? Atau memang lebih keras karena gw memang harus jadi lebih durable? Apakah memang di sana tempat gw? Atau ada pelabuhan lain yang lebih baik bagi gw?
Atau... Apakah...


Masih, dan sedang sibuk bertanya-tanya.


When it comes to the future, there are three kinds of people: those who let it happen, those who make it happen, and those who wonder what happened.

 Well, I should just stop wondering then. Haha


Random dikit, agak sirik dengan posting adik yang satu itu. Senangnya melakukan banyak hal, senangnya being under pressure, senangnya berbagi dan berjuang; gw kangen dengan hal-hal itu. Akhir kelas XII membuat gw merasa sangat 'kosong' (yang diartikan berlebihan oleh Rizki Fadhilah yang selalu konyol itu :p).


Terakhir, tiba-tiba gw sangat ini exploring Indonesia. Melihat ini


Moyo Island
Wakatobi

Ngiler. Tiba-tiba pengen liburan.

Oke, cukup. Selamat berjuang!
UN: started on April 16th.

Sunday, March 11, 2012

Another Great Teacher

Mengerjakan Detik-Detik Ujian Nasional membuat gw ingat tiga tahun yang lalu. Sama, gw mengerjakan soal-soal dari buku ini karena mau menghadapi UN. Tapi dengan semangat yang jauh berbeda, entah apa alasannya. 

Gw jadi ingat saat-saat gw les di Bintang Pelajar. Gw jadi ingat Mbak Nani. Ia guru IPA. Orangnya tegas, figur akhwat strong yang memang gw senangi. Gw sangat suka hari Sabtu, karena di hari itulah gw diajar IPA olehnya. Setiap membuka buku paket soal UN, pasti soal-soal IPA yang gw kerjakan sampai habis. Bahkan gw mengerjakan soal-soal IPA dari modul BP saat di angkot walaupun langit sudah gelap karena menjelang Maghrib. Sampai pernah suatu kali gw les di BP dan empat orang teman gw gak masuk saat kelas Mbak Nani, gw sampai bingung mau membahas soal apalagi; karena dari semua buku yang gw bawa soal-soalnya sudah habis gw lahap.

Di suatu saat:
"Mau ke SMA mana?"
"SMA 1, Mbak."
"Kamu mah insha Allah bisa."
"Udah punya rencana kuliah?"
"Pengennya ke Jerman sih, Mbak. Hehe."

Dan di pertemuan terakhir.
"Ini pertemuan terakhir dengan saya. Saya mau ngajar di Banten. Kamu mau ke Jerman kan, Tika?"
"Hehe iya, Mbak."
"Mudah-mudahan kita ketemu lagi ya, di sana. Saya juga pengennya ambil S-2 Biologi di Jerman."

Tiba-tiba gw kangen beliau. Kangen caranya memotivasi gw sampai punya semangat yang segitunya. Gw juga jadi kangen diri gw yang segitu menggebu-gebunya. Kangen diri gw yang punya persistensi dan determinasi sekuat itu.

Fuh, kurang dari 12 jam sebelum Ujian Sekolah. Mudah-mudahan kami semua baik-baik saja. Ralat, mudah-mudahan kami mendapatkan hasil terbaik, dengan jalan yang baik pula.

Sampai jumpa, Mbak! Di Jerman, kan? :) Terima kasih untuk membuat saya termotivasi, bahkan untuk saat ini.
Maaf kalau ada yang salah dari apa yang ditulis di sini.

Saturday, March 10, 2012

Mereka (Lagi)

Entah apa jadinya kalau tanpa mereka
Arin-Bathriq-Novi-Tika

Satu harapku: sisakan masing-masing satu tempat terbaik untuk kami dari-Mu

Naif, tapi gw benar-benar yakin bahwa jarak tak lagi mampu mempengaruhi dimensi kita.
Kalian juga, kan? :)
Entah kenapa gw jadi melankolis gini.

Sunday, March 04, 2012

GUM: Gol Untuk Mama

Gw ...
selalu excited sama yang namanya bola, selalu berbinar kalau nonton Captain Tsubasa, dan selalu menyimpan keinginan untuk jadi official seperti Anego HAHA
pengen banget masuk Panssera, klub futsalnya SMANSA, untuk sekedar jadi official, tapi ternyata nyokap gw ga ngasih izin
sangat bersemangat mendengar tentang SPL sejak kelas X, malah sempat tercetus di benak gw keinginan untuk jadi Presiden (Re: Ketua Panitia) SPL (though in fact, I won't be able to be as great as Widuri :D)


Dan pada akhirnya...
Sebuah chat, tawaran untuk menjadi Presiden tim dari Aufa saat akhir kelas XI.
Gw mengiyakan, tanpa pikir panjang; karena rasanya itu pilihan yang benar.
Setelah sempat muter-muter nyari nama, dengan menyingkirkan Teman-Teman Subasa (TTS), kami memilih nama Gol Untuk Mama.
Gw merasa bersalah pada mereka, karena di awal kelas XII, gw sempat menelantarkan tim ini.
Mendapat kaos warna pink yang dihujat satu angkatan.
Pertandingan-pertandingan yang selalu spektakuler
Pertandingan pertama SPL vs HM yang berakhir seri, lapangan becek karena hujan
Pertandingan vs GPRS yang cukup mencekam karena dibantai 0-4
Kebangkitan kembali GUM saat melawan LGE
Gol-gol spektakuler
Penonton yang pusing saat GUM vs GMU saking cepatnya bola berpindah tempat
Jadi JUARA KLASEMEN! 
Dan semifinal kembali melawan HM, sempat tertinggal, tapi ternyata bisa mengejar :) 
Penutupnya: melawan GMU dengan hasil 2-1

Gw sama sekali gak menyangka gw bisa jadi presiden tim yang segila ini. Gw sama sekali gak menyangka GUM bisa jadi juara SPL Benteng Batu.
Gw jadi teringat ini, hal yang pertama kali dia beri tahu saat gw menerima tawarannya
"Gw mau bikin tim yang bisa ngalahin GMU, Tik." - Aufa
Bukan kemenangannya yang gw garis bawahi, tapi bagaimana kekuatan mimpi bisa mengantar kita meraih apa yang mungkin tak kita bayangkan sebelumnya.

Di masa-masa terakhir gw di SMANSA, gw kembali mengucap syukur. Terlebih, karena keluarga gw bertambah satu lagi :)

After final match
Special thanks to: Muhammad Aufa Ahdan, Nazar Adam, Mochamad Julian Rudyanto, Bintoro Heryudanto, Muhammad Fihri, Segy Hendro Pratama, Egi Priyadi Pamungkas, Angga Nofa Prasetyo, Fazrananta Elmansyah, Ghilandy Ramadhan, Yoga Noer Ichsan, Natan Sagari Maris, Fadhillah Eryananda, Dwi Kurnia Septiani Rahayu, Wita Novitasari, Nindya Tri Muliawati, Iman Rakhmadi, Raden Ruly Wicaksono, and Inardi Rizky.


it was on my draft for so long :p